Wednesday, 15 July 2020

A Break From Twitter

So I decided to take a break from the infamous microblog site ; twitter. The reason was ... well, it became more and more toxic (d'uh). Turned out the people that I followed were ... not so 'open-minded' as they claimed themselves to be. I'm not being sad about it or anything ... in fact, I'm grateful that I had the chance to see the true them before it's too late.

It started with this article. The writer - Revina - told us how the 'our body our authority' also came with 'our responsibility'. She wrote a piece on how someone who had unprotected sex should be prepared with the consequences. At this case, the queen-mother of consequences (Indonesian version) : unwanted pregnancy. As we all know, Indonesia's health law prohibited abortion unless it was medical indication (emergency) or in rape case where it could cause trauma for the mother.

Revina talked about the consensual unprotected sexual intercourse and its consequences. Like it or not, as much as it's supposed to be both parts' responsibility, the law when it comes to unwanted pregnancy couldn't help the woman as much as it should be. There weren't any criminal law for the man, only civil law. As someone who works in the law field, Revina also described that even though civil law could somehow force the man to take responsibility, the process would be long and with high cost as to take DNA test, etc.

I had encountered enough of DNA paternity cases before. Most of them were unpleasant, especially if the result was far from what the family expect. I saw them cried. I faced insults. I got offered some bribery (as if there is enough money to switch the DNA structures of a baby, so NO!) and I got conclusion that : one should be prepared with the consequences when it comes to unprotected sex in Indonesia. In front of the law, the judge would see things as it is. A result of consensual unprotected sex would always put the woman in the wrong part - not to mention the stigma from the society.

So I agree with Revina when it comes to 'take responsibility'. If you don't want pregnancy, then make sure you're protected. Yes, one's body one's authority but don't forget the responsibility, please. Yes we all wish for fairness in law as well as society, but whether we like it or not ... the woman - who carried the child - would often forced to take the scarlet letter. So before the day the law changed, we should be careful.

Okay, Revina was a bit harsh when she said 'consensual unprotected sex = 'consent' to get the consequences', for the sex education was still not enough and fair throughout Indonesia due to 'taboo' and such ... but for those who know the consequences, sane and be able to give consent to consensual sex, they should prepare for the consequences. I agree with her in this.

However, some of my friends in twitter are strongly disagree with her. It's okay, we all have our own opinion, but I hate the way they tried to bash her by bringing up her old mistakes, twisting her words, quoting her article and said 'look at her, she's agaisnt woman's right' even though she clearly said she is more than willing to help woman with unwanted pregnancy. They twist the article as if Revina talked about unconsensual sex (rape, statutory, etc). I tried to speak up my mind, trying to tell them : yes, her words are strong but the message she tried to give is got the point.

One of them told me : go read this tweet about consent. Yes, thank you. I read that. Yes, I perfectly understand that if one gives consent but changes one's mind, the other must not force themselves and respect that. But not all people understand that and it would be hard when they tried to take it to court. The fact that "I do agree to do sexual intercourse but I changed my mind later, but I was forced to do so" would seldom be accepted in court.

Yes it is unfair. Yes we all want it to change. As someone who deal with this kind of case, I want justice to be served. The bitter truth is, the chance is pretty rare that the judge would accept such testimony. They would think "She's making that up / if she didn't agree she should be from the start / and another accusation"

That's what she tried to say. Until that day come, let's all be careful and use our authority on our body wisely - aware with the consequences and all. Unfortunately some people are too emotional to see it. And plenty of them use dirty ways to force her to say "I take it back.". Old 'digital trace', even body-shaming ... the things most of the 'open minded people' was usually refused to do so. Turned out we all will use double standard eventually.

Soo ... I decided to take a break. I'm gonna alter my socmed to play UNO or read WattPad. It's better for my mind at the moment.

Ps. Deepest condolences for Naya Rivera's family and friends. I just heard the news this morning. May you rest in peace, Naya ... and may God give strength to everyone close to you.

Wednesday, 20 May 2020

Lovely


 Oke kayanya sudah terlalu lama absen menulis karena satu dan lain hal. Mulai dari mengurus anabul oren yang belakangan ini rewelnya nggak ketulungan dan nggak mau tau kalau aku lagi banyak mengurus revisi kerjaan *menghela napas*. Akhirnya kalau sudah capek, aku memilih buat goleran baca buku kumpulan cerpen atau main ukulele. Yep. Ini dia ukulele baru kesayanganku :



Dari dulu pengen banget bisa punya ukulele ... walau selama ini main gitar juga pas-pasan asal genjreng aja. Kayanya ukulele lebih pas dari segi ukuran walaupun harus ngapalin kunci baru lagi. Hehehe ... lumayanlah sejauh ini latian dengan mainin lagu anak-anak favorit kayak It’s a Small World, The Lion Sleeps Tonight sama Never Smile at a Crocodile :D hehehe ...

Ngomong-ngomong soal ukulele, aku jadi teringat teman bloggingku dulu. Aku sudah beberapa kali pindah blog karena berbagai alasan. Waktu awal-awal ngeblog dulu, aku ketemu temanku ini ... sebut saja dia si Lovely. Lovely ini salah satu perempuan paling keren yang pernah aku temui. She’s beautiful, classy, sassy, smart as hell and kind. Perempuan paling baik yang pernah aku kenal. Lovely suka memanggilku ‘Little Tephie’ karena biarpun badanku lebih bongsor dari dia, tapi aku menganggapnya kakak.

Sama kayak aku, Lovely juga beberapa kali berganti blog. Walau begitu blog pertama & keduanya masih suka kukunjungi sesekali. Terakhir dia update adalah sekitar delapan tahun lalu, tapi entah kenapa tulisan-tulisannya selalu membuatku merasa bahagia. Kayak melihat album foto. Apalagi waktu kami sama-sama menjejak umur awal dua puluhan. Lovely selalu menjadi pusat perhatian dengan keluwesan dan kecantikannya. Dia jauh lebih pemberani dari aku walaupun dia bersikeras, akulah yang jauh lebih berani karena profesiku sebagai dokter magang forensik waktu itu.

Lovely yang secara nggak langsung menginspirasiku untuk memasak kue. Dia suka posting hasil masakannya dan kadang aku mencari resep sendiri di internet lalu cerita ke dia soal hasil eksperimenku. Contohnya, waktu Lovely memasak cupcake dengan krim vanilla yang keliatannya yummy banget... aku nyoba bikin cupcake juga, tapi karena aku nggak begitu suka krim jadi aku buat toping yang rasanya asam-manis biar mengimbangi rasa vanilanya.

Pernah sekali aku nanya resep salah satu masakan Lovely karena aku nggak menemukan resep untuk makanan serupa di internet, tapi dia menolak. Alasannya, dia nanti mau membuat toko kue sendiri jadi beberapa resepnya dia simpan. Lovely sempet minta maaf karena dia merasa nggak enak. Aku bilang nggak apa-apa, aku ngerti. Lovely lalu bilang ada temannya yang marah dan jadi jaga jarak ke dia gara-gara hal ini.

Wajar aja sih ... Lovely itu gadis yang banyak jadi target iri hati orang. Khususnya perempuan. Sampai kadang mereka jadi nyari-nyari kesalahan Lovely buat menjatuhkan image dia. Selama berteman, sudah dua kali aku mendengar cerita soal Lovely yang berantem sama orang gara-gara hal sepele. Nggak cuma hal ‘sekecil’ merahasiakan resep masakan, Lovely nggak ngasih tau nama gebetannya aja sudah bikin seorang cewek jadi ngejelek-jelekin dia dengan kata-kata super jahat di blognya.

Hal lain yang aku ingat dari Lovely adalah waktu dia patah hati. Salah satu patah hati terburuknya. Waktu itu aku merasa gondok bukan main sama orang yang sudah mempermainkan dia. Ingin rasanya ikut melampiaskan marahku ke dia, tapi ... Lovely mencegahku. Lovely bilang - secara nggak langsung - "Teph kalau kamu masih sayang aku sebagai kakak kamu, aku mohon jangan ikut menghukum dia. Dia udah cukup terhukum dengan rasa bersalahnya." Karena itu juga pas orang ini mulai 'ngelunjak' karena merasa dimaafkan, aku yang saat itu dalam keadaan marah hanya bilang : Untung Lovely udah minta ke aku buat diam. Kalau enggak, udah kubikin rame sekalian kelakuan jahatmu ini! Lovely ngajarin aku untuk memaafkan orang yang menyakitkan hati kita. Biarkan karma saja yang bekerja. 

Anyway, Lovely banyak mengajari aku soal hidup di awal dua puluhan waktu itu. Satu hal yang nggak kesampaian sampai sekarang adalah liburan bareng. Moga-moga aja suatu hari nanti bisa. Lovely, dimanapun kamu berada ... aku harap kamu selalu bahagia ya.

Saturday, 9 May 2020

Diary Anonim - Cerpen


Hari itu sesi jaga malamku di stase forensik lumayan sibuk. Aku baru saja menyelesaikan visum ketika HP-ku berbunyi. Ada pesan yang masuk di blackberry messenger, mengatakan ada pemeriksaan luar di ruang post mortem. Huff ... padahal saat meminta keterangan dari korban pemukulan yang adalah seorang anak perempuan berusia tiga belas tahun itu, aku sudah cukup memakan banyak energi. Cerita anak itu agak berbelit-belit dan beberapa kali ia bungkam. Aku membujuknya berkali-kali, memintanya untuk bercerita dan tidak usah takut, karena banyak orang yang melindunginya di sini. Akhirnya ia mau bercerita, kalau pacarnya lah yang memukulinya saat mereka bertengkar.

Miris sekali hatiku mendengarnya ... dia anak  perempuan yang masih berusia13 tahun ... aku ingat betapa insecure-nya aku dulu ketika seusianya. Apalagi pelakunya berusia 18 tahun, lebih tua, lebih dipercaya oleh gadis itu ... apa yang ada di pikiran laki-laki itu ketika melayangkan tinjunya?

"Kamu itu terlalu sabar, Kay." kata Sandy, salah seorang teman jagaku. "Apalagi menghadapi kasus semacam itu. Aku sudah hilang sabar tadi, dikira kerjaan kita hanya dia apa?!"

"Ya namanya juga kasus pemukulan. Apalagi pelakunya pacar sendiri, wajarlah kalau dia shock dan masih denial ... selama ini dia sayang sama pacarnya, percaya sama dia ... pasti dia mikir lah, apa jangan-jangan dia yang salah.", kataku sambil berjalan di sebelah Sandy.

"What bullshit!!" maki Sandy. "Laki-laki yang memukul wanita itu bahkan kebagusan kalau dibilang "sampah masyarakat". By God ya, kalau sampai ada yang berani kayak gitu ke adikku atau ke orang terdekatku, aku akan membuat mereka merasakan hell on earth!"

"Ups, sabar, sabar Mas ... kita harus netral, remember? Tidak boleh memihak. Aku juga marah tadi, aku juga ingin pelakunya dihukum berat. Tapi itu sudah di luar kapasitas kita. Kita sudah melakukan apa yang kita bisa. Selebihnya, urusan penyidik ..." kataku.

Sandy menatapku, lalu nyengir. "Kamu memang calon dokter forensik yang baik."

Aku terbahak. "Amin!"

Kami sampai di ruang post mortem. Desta sedang memeriksa barang-barang si 'pasien' sementara Cathy  mencatat deskripsinya. "Nah syukurlah elo berdua dateng. Kay elo gantiin gue ya, Sandy elo bantu Cathy memeriksa pasiennya."

"Oke. Sip!"

Aku mengenakan sarung tangan dan mulai memeriksa barang-barang yang ada di samping si korban. "Meninggalnya kenapa?" tanyaku.

"Gak tau. Ditemukan di jalan. Belum ada keluarga yang bisa dihubungi." jawab Desta.

"Oh." aku melihat benda-benda yang ada. Sebuah handphone, seplastik uang dan sebuah buku notes kecil bersampul merah. Aku meraih buku itu, karena benda itu yang pertama kali menarik perhatianku. Tanganku hendak membuka halaman pertama buku itu, berharap di dalam buku itu ada nomor telfon keluarga si korban. Tapi kemudian aku teringat. AKu menoleh ke si korban ... seorang pria berusia dua puluhan yang tubuhnya kurus, mengenakan kaus hitam bertuliskan kata makian kasar, jins sobek-sobek dan sandal jepit.

"Bapak, maaf saya lihat bukunya ya. Siapa tahu ada nomer telfon yang bisa saya hubungi.", ujarku.

"Iya, Mbak'e ... buka aja!" Desta menyahut iseng. Aku nyengir.

Halaman pertama buku itu berisi lirik lagu. 'Jujur Saja' by Wonderboy ... begitu tulisannya. Ada huruf-huruf yang ditulis dengan huruf kapital, pertanda itulah bagian yang ditekankan si penulis.

JUJUR SAJA KAU ANGGAP AKU APA?
MENGAPA KAU TAK BERTERUS TERANG?
JUJUR SAJA KU RAGUKAN CINTAMU
KARENA DIRIMU TAK SEPERTI DULU

Di bawah lirik lagu itu ada tulisan : Jujur saja, kau anggap aku apa??

Dheg. Lagi-lagi aku merasa miris. Jika benar si korban (Ia masih dinamakan Mr.X, karena tidak ditemukan KTP atau tanda pengenal lain) yang menulisnya ... saat menulis ini ia pasti sedang galau luar biasa karena merasa terombang-ambing dalam ketidakpastian. Aku membuka halaman berikutnya, mencoba fokus pada menemukan nomer telfon yang bisa dihubungi, tapi lagi-lagi perhatianku teralihkan pada sketsa wajah seorang perempuan berambut keriting panjang seperti ilustrasi novel-novel roman zaman dulu, di bawahnya tertulis : I love you Kirana ... 


Di halaman lain ada catatan kecil. Hari ini ada satu kebahagiaan kecil yang kamu berikan untukku, yaitu kamu membalas sms-ku. Memang singkat, tapi aku tidak berharap banyak kok. Aku tahu kamu sibuk. Aku cukup senang kamu mau membalas sms-ku. 


Aku membalik lagi halamannya. Aku akan tetap menunggu kamu, mencintai kamu ... walau aku tahu kamu tidak perduli sama aku.  


Kirana,
satu nama itu selalu terpatri di hatiku
Kirana,
nama yang sempurna, sesempurna keindahanmu
Kirana,
nama yang menjadi pengganti doaku
setiap fajar membuka hari
Kirana,
ditengah malam beku ini, 
namamu bagaikan lilin kecil yang hangatkan hatiku
Kirana,
aku percaya suatu saat nanti 
kau akan pecaya betapa aku mencintaimu
Kirana,
biarlah kukecap pahit dan hujaman nyeri ini
karena aku yakin, akulah tempatmu pulang


Lalu ada lagi tulisan yang agak cakar ayam, menandakan penulisnya sedang dilanda emosi. Kamu jahat. Kamu hancurkan hatiku. Aku tulus sayang sama kamu, melebihi cinta tunangan kamu itu. Tunangan kamu enggak perduli sama kamu. Dia sering membuat kamu menangis kan? Buka hati kamu, Kirana. Buka sedikit untuk aku. Kenapa kamu tidak pernah menganggap aku ada? Lihat aku di sini, aku tulus mencintai kamu.


Kamu bilang kamu sayang aku. Tiga kata itu kamu ucapkan pagi ini ketika aku tanya bagaimana perasaan kamu ke aku. Dengan gampangnya aku luluh ... ah Kirana, aku memang selalu lemah kalau menyangkut kamu. 


Kirana, malam ini aku sakit lagi. Mungkin besok aku sudah tidak bernyawa. Aku menulis ini dengan sisa-sisa tenaga terakhir aku. Kirana, Kirana ... kamu di mana? Aku mau melihat kamu, sekali saja sebelum aku mati. Aku mencintai kamu, Kirana .... 


"Kay! Kok sampe terpesona gitu sih?" Cathy menepuk bahuku, ia melongok ke buku notes yang masih kubaca. "Ya ampunnn ... lebay sekali!" komentarnya.

"Bapaknya masih bisa denger kata-kata kamu lho!" ujarku.

"Ups! Maaf ya Pak ..." kata Cathy. "Tapi kamu yang fokus dong Kay ... kamu kan mau nyari nomer telfon yang bisa dihubungi, remember?"


"Iya, iya ... sori ..." aku membalik-balik halaman buku itu, mengabaikan tulisan demi tulisan yang melafalkan satu nama : Kirana. Lalu akhirnya aku menemukan beberapa nomer HP, salah satunya adalah nomer HP Kirana. Setelah mendeskripsikan barang-barang korban, aku meminta ijin sejenak menyerahkan buku itu ke petugas administrasi untuk menghubungi nomor telfon itu.

Pemeriksaan luar selesai, dan kami beristirahat di ruang jaga.

Aku memutuskan untuk tidur sejenak, karena tidak tahu apa yang akan datang nanti malam. Kupejamkan mata dan berusaha tidur. Aku teringat dua kasus yang aku hadapi hari ini ... yang satu dikhianati kepercayaannya oleh orang yang ia cintai, yang satu setengah mati mencintai (atau bisa dikatakan ... terobsesi?) ... tanpa bisa kucegah, imajinasiku melayang membayangkan apa jadinya kalau hidup mereka berdua adalah sebuah film romantic comedy. 


Si gadis bertemu dengan si Mr.X ... mungkin saat ia berlari menghindari kejaran pacarnya yang mau memukulinya? Mr.X menghajar pacar si gadis dengan maksud melindungi, kemudian mereka berkenalan, kemudian mereka saling curhat, kemudian mereka jatuh cinta, kemudian mereka melupakan yang menyia-nyiakan mereka dan akhirnya mereka hidup bahagia selamanya? Kenapa tidak bisa seperti itu? Itu ending yang ideal bukan? Menurutku sih ... 


Oh well ...lagi-lagi aku hanya bisa menemukan 'itulah hidup' - whatever that means - sebagai jawaban atas pertanyaanku. Semua orang ingin bahagia, ingin mencintai dan dicintai. Tapi dalam hidup, seringkali tidak bisa sesederhana itu. Haish ... memikirkannya saja sudah pusing. Lebih baik aku tidur dulu, mudah-mudahan nanti malam jagaku aman.

Aku tidak tahu kapan aku terlelap. Tahu-tahu saja aku merasa ada yang berdiri di depanku. Aku memicingkan mata, melihat sosok samar-samar yang kemudian semakin jelas. Seorang pria berambut emo, mengenakan baju hitam bertuliskan makian, jins sobek-sobek dan sandal jepit, tengah menatapku.  Ini kan ... Mr.X yang tadi!! Seruku dalam hati, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Ketika wajahnya semakin jelas, aku melihat sudut-sudut bibirnya terangkat sedikit dan ia mengangguk padaku, sebelum berjalan keluar kamar jaga.

"Kayla ..."

Ada suara laki-laki memanggil namaku. "Kayla? Kayla?" aku merasa ada yang mengguncang bahuku dan aku bangun gelagapan.

Desta nyengir melihatku. "Sori elo udah tidur yah? Barusan ada panggilan ke IGD, ada visum."

"Oh? Mmm ... okeh okeh, bentar ..."

Aku meraih HP yang tadi sedang di- charge, memastikan notesku ada di kantong baju jaga, sebelum mengikuti Desta dan teman-teman lain ke luar kamar jaga. Sepertinya, masih banyak cerita yang akan aku dengar malam ini ...

Friday, 8 May 2020

Kapok Lombok

Kapok lombok. Istilah ini sebenarnya berarti rasa jera yang hanya bertahan sementara. Seperti orang yang makan cabe, kepedasan, merasa kapok, ehh besoknya diulangi lagi. Begitu terus. Tapi, buatku pribadi, kapok lombok itu adalah jera yang sebenarnya.

Gara-gara ada yang bilang kalau obat ngambek perempuan itu seblak, aku jadi tertarik menulis random soal rasa pedas yang identik dengan seblak. Aku dulu adalah penyuka pedas. Kalau makan apa-apa pasti pakai sambel kalau nggak ya bubuk boncabe. Aku suka Mie Gaga lada hitam, mie ABC selera pedas dan selalu penasaran sama mie pedas lainnya (bukan pesan sponsor)

Makan pedas itu bikin kecanduan banget. Setiap kali makan pedas pasti penasaran pengen lagi dan lagi, dengan level pedas yang bertambah. Aku sempat tertarik makan mie ramen super pedas di salah satu resto ramen murah meriah ... tapi karena syaratnya aku harus menghabiskannya dalam waktu tertentu akhirnya nyerah deh. Biarpun suka pedas, tapi aku paling nggak bisa makan cepet. Makanku pasti pelan-pelan dan kalau harus makan cepet, aku lebih memilih ngemil atau minum susu.

Akhirnya suatu kali aku kena batunya. Berawal dari pilek gara-gara kecapean, aku dapet ide untuk 'mengusir' pilekku dengan makan pedas. Waktu itu aku masih kost di Semarang dan hobi bereksperimen di dapur. Berbekal bon cabe level 10, bubuk krim sup instan, sosis dan jamur ... jadilah krim sup super pedas ala anak kost. Satu mangkok besar pun habis walau setiap beberapa suap aku harus minum air. Aku keringetan dan yakin kalau besoknya pilekku akan hilang. paling efek sampingnya cuma diare ringan besok pagi.

SALAH. b

Besok paginya aku malah tidak diare sama sekali. Pilekku juga hilang. Sayangnya, semua itu erganti nyeri ulu hati dan muntah-muntah. Aku nggak bisa makan apa-apa. Minum sedikit pun muntah. Aku hanya bisa berbaring di tempat tidur dengan perut sakit bukan main.  Ampun deh aku sampai mengira apa aku kena radang usus buntu. Akhirnya sore hari aku terpaksa diinfus di IGD gara-gara hampir dehidrasi. Di IGD aku hanya bisa pasrah. Disuntik obat penurun asam lambung, obat anti muntah dan harus berbaring di atas tempat tidur sampai habis 2 botol infus. Dokter IGD menyuruhku istirahat 2 hari. Aku nggak berani bilang ke teman-temanku sesama residen, apalagi foto tangan yang diinfus biar ditanya kenapa. Aku bakalan jadi bahan ketawaan kalau mereka tahu aku diinfus gara-gara overdosis bon cabe.

Sejak saat itu aku kapok. Kapok lombok beneran. Nggak lagi-lagi aku harus di IGD gara-gara nggak bisa menakar kekuatan perut. Saking kapoknya, waktu aku nyoba jajan Seblak, tadinya aku minta level pedas paling rendah ... tapi melihat Mbak penjual seblak menuangkan satu sendok sambel yang kelihatan serem di pesanan orang yang lebih dulu memesan ... akhirnya aku minta level 0 alias nggak pakai sambel sama sekali.

Si Mbak sempat heran, "Lho, nggak pakai sambel sama sekali Mbak?"

"Iya Mbak. Level 0 aja." , aku mengangguk mantap.

Si Mbak masih ragu, "Nggak mau sedikit saja? Setengah sendok? Kalau nggak pedes sama sekali nanti rasanya kayak mie instan biasa lho."

"Ng ..." aku melihat mangkok sambel Seblak yang penuh biji cabe, "Nggak usah Mbak. Udah begitu aja."

Mbak penjual Seblak akhirnya berinisiatif membekali sambelnya di plastik terpisah. Aku pun makan seblak isi mie, chikuwa, telor, bakso dan ati ampela dengan kuah bening rasa kaldu ayam. Kayak makan indomie isi sisa frozen food di kulkas. Biarin deh diliatin. Daripada insiden masuk IGD keulang lagi.

Ternyata bukan cuma aku yang pernah masuk IGD gara-gara pedas. Sepupuku dan 3 orang teman sekantornya juga pernah dirawat karena radang usus bersamaan. Gara-garanya mereka makan mie goreng dengan 100 cabe rawit. Astaga ... tapi sampai sekarang sepupuku tetap tidak kapok. Dia tetap jadi penggemar pedas level tinggi dan gemar berburu makanan pedas. Wih ... kalau aku, aku beneran sudah nyerah. Cukup sekali saja aku harus masuk IGD gara-gara kekonyolanku. Aku nggak mau menganiaya diri sendiri cuma demi kepuasan di mulut :'D

Thursday, 7 May 2020

Rahasia

When Eleanor goes back in the house after seeing Park, Richie is crass and abusive, calling her "nothing but a bitch in heat." His degrading comments force her to think more deeply about her situation. Until now, she'd "kept Park in a place in her head" that "Richie couldn't get to." But now Richie is "pissing all over everything," and she can't think about Park without seeing Richie's leering face. 
Elanor & Park - Rainbow Rowell 

Simpan segala kenangan indah yang tersisa
Kembali ke dalam kotak memori
Jangan lupa kunci rapat-rapat
Dan jangan sampai ada yang tahu
Lalu mencari kesempatan untuk merusaknya

Wednesday, 6 May 2020

Puing

Sudah, diam sayang
Tidak ada gunanya menangis
Ini bukan cerita dongeng
Dan kamu bukan Alice di negeri dongeng

Lihat tetesan air hujan sayang?
Lihat hantaman ombak di bibir pantai?
Adakah mereka melambat
Untuk ikut mengheningkan cipta denganmu?

Semesta tidak pernah mau menunggu, sayang
Bukankah sering kukatakan padamu?

Tuesday, 5 May 2020

Luruh


“Memang cinta bisa ditakar? Kayaknya, cinta sih cuma cinta doang. Cinta nggak kenal besar apa kecil. Cinta cuma satu,  nggak perlu takaran. Takaran bisa bikin cinta jadi dua. Dua bikin permusuhan. Permusuhan bikin kelahi.” – Ca Bau Kan, Remy Sylado.

Hari ini aku kehabisan kata
Ketika kau ambruk bersimpuh di hadapanku
Dengan napas yang tinggal satu-satu
Serta jejak kaki berdarah di belakangmu

“Aku lelah”, berulangkali kau ucapkan mantra itu
Sambil membasuh dirimu
Dengan rambut panjangmu
Yang kau basahi dengan air matamu
Sekelam itu kini hati dan jiwamu

Setelah semesta membalikan tangan
Dan menghancurkan delusimu
Tentang sebuah utopia
Dimana dirimu menjadi poros
Dari segala yang ingin kamu miliki

Kau mengira gravitasimu
Juga kepiawaianmu membagi jiwa
Cukup untuk menjaga duniamu
Dalam suatu tatanan yang teratur
Dan kini semuanya luruh menjadi abu
Tidak ada lagi yang tersisia untukmu

Berhenti bicara, sayang
Ampuni jiwamu sendiri
Berhenti berlari, sayang
Diamlah
Agar sekali ini
Bisa kau dengar suara nuranimu

Ambis

  Just yesterday another hullabaloo happened in twitter (surprise, surprise). This time it was about an infamous stand-up comedian slash inf...