Saturday, 19 December 2020

2020 Achievement

Usually at the end of the year I'd write long list on what I've achieved in that year and then another long list of what I wanna achieve. However, this year my list of  'achievements' are : 

1. Staying alive
2. Being able to help people along the way

Alhamdulillah, thanks be to Allah 



The Joy of Medsos

Barusan aja ada ribut-ribut di linimasa twitter saya soal anak yang marah-marah karena merasa privasinya dalam bermedsos diganggu. Anak ini punya akun twitter, dimana dia merasa itu adalah zona nyamannya. Nggak ada yang salah punya zona nyaman. Beneran deh, siapa yang nggak kepengen punya ruang untuk bebas berekspersi? Dimana kita bisa ngapain aja tanpa khawatir di-judge macem-macem. Mau jungkir balik ya silakan... tapi sayangnya, anak ini salah memilih zona nyamannya. Bukannya pakai buku diary berkunci atau menggunakan alias di twitter, dia malah membuat akun twitter dengan nama asli. Dan yang dia ekspresikan itu bukan sekedar tebakan receh, lelucon bapak2 atau meme yaoming yang aga nyeleneh ... ini nyerempet2 hal yang agak saru. 

Saat ini pembaca blog saya sih masih terbatas, tapi kalau nanti ada anak < 18 tahun yang baca, tolong tanyain baik-baik ke ortu/guru ya hal-hal saru itu kayak apa, dan jangan diikuti oke? Nah lanjut ... 

Ternyata ada yang screenshot twit2nya dan mengirim ke ibunya. Anak perempuan ini ngamuk-ngamuk sama si tukang ngadu. Dia mempost tangkapan layar chat dari ibunya dan ... tadinya saya mengira dia bakal post voice not ibunya yang nyanyi heavy metal kayak Aggretsuko kalau marahnya udah seubun-ubun ... 


Atau minimal ibunya ngirim video kode kayak ini *glek*. Ibunya 'cuma' minta anak itu cepat pulang sebelum ayahnya tahu, karena ibunya mau bicara, ibunya juga menanyakan apa uang yang diberikan ayah & ibunya selama ini kurang. Haduh ... kerasa banget ibunya sedih, kecewa & bingung melihat anaknya yang seperti orang lain di twitter. 

Anak ini jadi trending karena warganet yang komentar dibagi menjadi 2 kubu : 
1. Menyalahkan si anak yang 'mencari zona bebas berekspresi' tapi yang dieskpresikan itu hal-hal nyeleneh dan menggunakan identitas asli 
2. Membela si anak karena harusnya orangtua memberikan zona privais buat anak-anaknya

Kalau saya pribadi, saya setuju sama nomer 1. Media sosial itu bukan tempat yang tepat buat membongkar semua aib. Kenapa? Karena bisa dilihat semua orang dan jejak digital itu nggak akan hilang. Waktu zaman bbm dulu mulai ada status aja, orang yang tanpa sengaja menyalakan fitur 'now listening' dan kemudian menonton video 'minus-minus' & terupdate di statusnya, bisa kena 'pinalti' berupa discreenshot (dengan screen muncher yang ada bunyi 'kraukk'-nya) terus disebar kemana-mana. 

Apalagi sekarang? Zaman yang makin hari makin membuat saya merasa kayak di novel 1984-nya George Orwell. Diawasi terus oleh pengikut 'Bung Besar'. Dunia sosmed sudah nggak seperti dulu lagi, dimana saya khusus membuat akun twitter supaya bisa follow berita tentang orangutan di orangutan.org atau membuat akun facebook supaya bisa main game Pet Society. Sekarang, Twitter adalah wadah buat baku jempol dan kadang merebet jadi baku hantam di dunia nyata. Begitu juga dengan Facebook. Udah nggak keitung orang yang saya 'mute' karena makin hari statusnya makin bikin gerah. 

Harusnya kita lebih hati-hati. Untuk kasus si mbaknya, kalau dia mau mengunggah status-status saru dengan 'aman', lebih baik pakai akun anonim. Kecuali dia bikin masalah yang mengarah ke pengancaman kemanan orang lain atau bahkan negara... orang nggak akan repot-repot melaporkan ke Cybercrime POLRI kok. Paling cuma dikomentari 'wong edan' lalu dianggap sepi. 

Belajar dari yang dulu-dulu, sejak orang mulai suka persekusi keblunderan orang lain di medsos, seharusnya kita bisa tahu kalau memposting hal-hal nyeleneh dengan identitas asli itu beresiko tinggi. Jangankan hal-hal yang nyeleneh lah ... kita bikin status opini aja kadang bisa dibikin blunder sama orang lain. Apalagi kalau kita punya nama di medsos. Selebgram/twit lah istilahnya. Begitu diblunderkan, langsung jadi trending topic seindonesia raya. Ingat salah satu adegan di The Raid 2 dimana Iko Uwais 'ngumpet' di kamar mandi penjara dan di depan pintu sudah menunggu sekumpulan NAPI berbadan ala pemain Smackdown yang menggedor pintu dengan ganas sambil siap-siap mempermak si Iko jadi orek tempe? Kira-kira begitu rasanya ketika kamu blunder atau diblunderkan oleh orang-orang. 


Saya nggak pernah suka namanya persekusi baik digital atau di dunia nyata. Meskipun maksudnya baik, tapi maksud baiknya nggak tersampaikan karena yang dipersekusi keburu gondok duluan. Misalkan orang lagi nyetir mundur, mau nabrak tiang listrik terus mobilnya digedor-gedor sama puluhan orang terus dimaki-maki karena hampir nabrak tiang listrik, apa 'maksud baik'-nya bakalan nyampe? Yang ada kalau dia nggak semaput di mobil ya dia bakalan panik ngebut nabrakin itu orang-orang. 

Tapi ya ... itulah salah satu 'the joy of medsos' sekarang. Kalau nggak ribut seharii aja kayaknya ada yang kurang. Karena memblokir medsos bisa memancing protes orang-orang seindonesia raya, saat ini yang bisa kita lakukan adalah berhati-hati (banget) dalam bermain medsos.



Saturday, 22 August 2020

Berburu Pernak-pernik di Adele Babarsari


Dulu waktu aku kecil & masih tinggal di Jakarta, aku dan teman-temanku suka banget berburu alat tulis lucu di Pasar Tebet. Ada satu toko yang jadi favorit kami karena terdapat benda-benda unyu di setiap sudutnya. Waktu lagi tren tukar-tukaran kertas file atau organizer, kayaknya setiap kali kami beli dari toko itu, pasti besoknya banyak yang mau tukeran. Saking bagusnya, kadang sayang banget kalau mau nulis di kertas itu :)) pasti ditaruh di deretan paling belakang & nggak boleh digunain. 

Yang nggak bisa aku lupain sampe sekarang adalah rasa bahagia menelusuri lorong-lorong sempit, senengnya pas ketemu pulpen unik atau buku diary dengan gembok bentuk hati + kunci dan kejutan waktu kita mendapatkan benda yang nggak disangka-sangka. Niat mau beli kertas file lucu bisa berakhir dengan seplastik penuh benda-benda yang belum tentu terpakai. Bodo amatlah, yang penting lucu :)) 

Hari ini aku mencari peniti + tuspin polos. Awalnya aku nyari di beberapa marketplace online dan nyaris kalap melihat model tuspin macem-macem dan peniti warna-warni :)) sayangnya aku nggak perlu banyak dan ongkirnya kadang malah lebih mahal. Akhirnya karena hari ini aku ada waktu luang, aku mampir ke Adele Babarsari. 

Karena aku tau ini toko asesoris yang super-lengkap & aku nggak mau sampe kalap borong-borong, aku udah menetapkan budget buat belanjarku hari itu. Pokoknya nggak boleh lebih dari sekian lah. Soalnya begitu aku masuk ... di sisi kiri langsung disambut lebih dari dua rak berisi bros, peniti, jarum pentul dan tuspin lucu. Huwaaa pengen beli semua! Untungnya aku nggak begitu suka yang ada bling-blingnya, ... jadi bisa mempersempit pencarianku. 

Adele Jogja Buka Jam Berapa - Adele Hello Someone Like You

Kurang lebih tokonya kayak gini 

oh iya tempat ini juga menjual barang-barang shabby chic murah meriah. Jadi buat yang niat mau ganti suasana kamar / kostan tapi tetap on budget, tempat ini sangat aku rekomendasikan. 

Adele, Ruko Rafflesia Babarsari Square Kav 3B-7, Jalan Babarsari ...

Yang surprise adalah ketika aku menemukan eye mask yang ada isi gel-nya. Udah lama banget aku nyari eye mask kayak gitu tapi lagi-lagi di toko online pasti ongkirnya membuat galau. Aku langsung beli & mencoba mencelupkan gel-nya di air panas sebelum kupakai buat mengompres mataku. Rasanya nyaman bangeeett ... my tired eyes are happy! :P 

Adele Babarsari juga menjual alat-alat make up (kuas, beauty blender, bulu mata palsu, lem bulu mata palsu, dll) , botol kecil untuk travelling, dll dengan harga yang lebih murah dari toko asesoris di mall. Buat yang penasaran ini tempatnya : 

Adele Babarsari
Ruko Rafflesia Babarsari Square Kav 3B-7
Jalan Babarsari, Kledokan, Caturtunggal
 Kec. Depok, Kabupaten Sleman
Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Oh iya di toko ini semua tas & jaket harus dititip. Bukanya jam 10 pagi - 10 malam. 

Tuesday, 18 August 2020

Bobba for lunch

Kemarin aku ngobrol bareng suami & temen kami, soal gaya hidup kami di usia dua puluhan. Aku baru ngeh kalau gaya hidup aku pas baru lulus FK itu sangat sangat nggak sehat. Ironis ya? :)) lulus fakultas kedokteran malah gaya hidupnya berantakan. Pertama, aku tu workaholic dan perfeksionis banget. Sekarang sih alhamdulillah sudah nggak terlalu, thanks to my hubby yang selalu mengingatkan aku kalo nggak semua-muanya itu harus sempurna. Dulu waktu di Jakarta, aku selalu mau menuntaskan pekerjaanku secara cepat dan tepat, juga tentu saja ... perfect. 

Aku sempat magang di Rumah Sakit POLRI Kramat Jati selama hampir dua tahun. Bekerja di bagian forensik, dengan tingkat kejahatan di Jakarta yang tinggi buanget, membuat jam kerjaku nggak karuan. Resminya, jam kerjaku itu dari jam 08.00 - 15.00 tapii setelah itu aku lanjut jaga klinik, sampai jam 8-10 malam tergantung pasienku. Pulang ke rumah bisa sekitar jam 11 malem dan langsung tidur buat menyambut besok paginya. Kadang aku merasa 24 jam sehari itu nggak cukup. 

Nah, selama jam kerja itu pola makanku awut-awutan banget. 

Aku memilih makanan yang cepat didapat dan mengenyangkan. Klinik tempatku jaga dulu terletak di apartemen dan biarpun banyak banget makanan rumahan di dekat sana, tetep aja aku hampir selalu makan junk food. 



Yeap, Lotteria is my diet at that time. Kalau klinik lagi rame dan pengen makan yang cepat selesai, kadang aku cuma makan es krim atau minum kopi susunya aja. Lebih parah lagi kalau aku di rumah sakit dan lagi banyak kerjaan (otopsi, laporan, dll). Siang aku sering memilih buat gak makan siang dan mengganti makan siangku dengan ... 


Bubble tea / bobba. Buatku, minuman / makanan (?) ini praktis. Aku minum segelas aja pasti sudah kenyang banget karena bobba-nya. Belum lagi gerainya cukup banyak dan dekat tempat kerjaku. Jadi kalau males kemana-mana aku tinggal pesan segelas (kadang malah dua gelas, satu kubawa sebagai bekal) buat menu makan siangku. Saking seringnya pesan, mbak-mbak penjaga counter sampai hafal pesananku, kalau nggak milk tea ya taro. 

"Ehh Mbak Dokter. Kayak biasa, Mbak? Taro? Atau Milk tea?" 

Dua tahun hampir setiap hari aku kayak gitu. Duh! Di antara semua pilihan makananku itu, kayanya yang 'mendingan' kalau aku lagi kejebak macet... 



Aku pasti stuck di minimarket macam Lawson atau 7/11 (RIP). Di sana aku bisa makan onigiri isi suwiran ikan, oden, sosis panggang ... walaupun minumnya tinggi gula juga sih, Slurpee / sejenisnya. Biarpun badanku nggak se(ehem) ndut sekarang, tapi nggak tau deh kalau waktu itu kadar gulaku dicek gimana (>_<") makanku mulai agak membaik waktu aku pindah ke luar Jakarta. Pertama, di Makassar. Di sana aku banyak makan ikan karena ikannya murah dan seger-seger :9 aku punya warung ikan langganan di dekat kostanku. Pemilik warungnya orang asli Surabaya dan ramah banget. Aku mulai dikit-dikit memperbaiki pilihan makanku :P

Sekarang sih alhamdulillah udah nggak dan nggak mau juga kayak begitu lagi, hahaha ... inget usia juga :)) metabolisme udah nggak sebagus dulu. Lagipula, tinggal di Yogya juga lebih tenang ... nggak membuatku merasa 24 jam sehari nggak cukup. Selain itu, ternyata perutku udah nggak tahan sama bobba. Terakhir minum malah besoknya perutku bermasalah >_< 

Saturday, 8 August 2020

Snack

Waktu lagi booming-boomingnya snack dari Jepang, mulai dari minimarket, toko online dan jasa titip beli semuanya menawarkan camilan seperti Chocobi, potato stick dan lain-lain. Aku masih bekerja di Jakarta dan temanku adalah salah satu orang yang ikut kerajingan snack-snack semacam itu. Suatu kali, salah seorang petugas dari kedutaan yang sering ditugaskan ke bagian forensik untuk mengurus jenazah WNA berkata ia ditugaskan ke Jepang. Temanku langsung heboh minta dibawakan oleh-oleh Tokyo Banana. Begitu hebohnya sampai dia ngomong berkali-kali dan ketika akhirnya oleh-oleh itu datang, ia memfotonya dari berbagai sudut untuk kemudian diupload ke sosmed. 

Aku penasaran juga melihat dia segitu girangnya dapat Tokyo Banana. Bahkan ketika aku ingin nyicip karena penasaran, dia malah mencibir dan menyalahkanku kenapa tidak ikut titip. Aku kontan ilfil diperlakukan segitu alay-nya. Meskipun setelah itu dia berkata dia hanya bercanda dan menawariku sebuah, aku keburu ilfil duluan. Tapi akhirnya aku mengerti kenapa dia sampai kayak Smeagol mempertahankan cincinnya di Lord of The Ring. 

Saat ini harga sekotak cake rasa pisang itu cukup mahal, dan nggak bisa langsung didapat pula karena mayoritas toko online hanya menyediakan jasa titip beli. Pantesan dia heboh banget upload ke sosmed lengkap dengan tagar sampai lebih dari selusin. Pasti siapapun akan merasa sangat keren kalau dilihat orang sedang ngemil Tokyo Banana. Karena kadang terlepas dari bagaimana rasanya, yang penting adalah kita kelihatan keren saat mengunggah foto makanan tertentu. 

Dulu pernah ada video viral soal anak yang ketahuan pura-pura "mukbang" mie instan super-pedas dari Korea. Ada salah seorang penonton yang memperhatikan detail dari tekstur mie di video itu, yang ternyata adalah mie goreng lokal. Setelah dirundung warganet (ampun deh begitu aja diributkan) anak itu akhirnya melakukan klarifikasi, bahwa ia pura-pura karena ia tidak punya uang untuk membeli mie instan Korea itu. Ya, pada akhirnya memang ada yang berbaik hati membawakan anak itu mie aslinya ... tapi aku sempat heran juga, buat apa pura-pura? 

Soalnya aku udah pernah mencoba mie itu dan menurutku rasanya kurang cocok dengan seleraku. Setelah memasaknya sesuai instruksi tapi rasanya nggak sampai seheboh yang diceritakan di berbagai sosmed, aku jadi penasaran. Apa harus kumodif ya? Akhirnya aku mencoba membeli lagi dan memasaknya dengan cara lain. Kubuat nyemek dengan campuran telur (serasa makan bakmi jawa :P), kugoreng lagi sampai kering ... tapi tetap saja rasanya kurang cocok. It's just not my cup of tea. 

Mungkin mirip denganku yang lemah sama hampir semua jenis kue yang ada gula merahnya. Contohya Lupis, Klepon atau Kue Putu apalagi yang masih panas dan gulanya meleleh *glek!*, tapi menurut orang lain biasa aja. Atau kulit ayam atau buntut lele yang buat orang lain bisa jadi alasan perang kalau sampai direbut, tapi aku yang hampir setiap makan ayam pasti kulitnya kukasih ke suami atau lempeng aja pas ekor lele gorengku dipotek orang karena aku lebih suka kepalanya. 

Yeap, selera memang nggak bisa bohong. Nggak perlu memaksakan diri suka sesuatu demi imej. 

Oh ya, selang beberapa bulan setelah cerita Tokyo Banana itu, Ayah dan Ibuku ikut tur ke Jepang dan pulang membawa berbagai macam snack dari sana. Salah satunya Tokyo Banana. Memang enak sih rasanya. Cake-nya lembut dan krim pisangnya manisnya pas. Ya 6/10 lah nilainya (buatku).  


Sunday, 2 August 2020

Day ... of Twitter Detoxing

Toxic Twitter | Amnesty International Canada

Sudah hari (atau minggu) kesekian saya sign out dari akun microblog saya. Jauh dari ketubiran yang sudah jadi makanan sehari-hari, jauh dari 'Bung besar' dan 'Bung-bung kecil' yang rajin menyortir opini orang-orang untuk kemudian dijadikan bahan perundungan massal, jauh dari logical falacy yang digunakan sebagai senjata orang-orang yang mengaku 'berpikiran terbuka' dan jauh dari hal-hal toxic lainnya yang selama ini secara tidak sadar masuk ke pikiran saya. 

Beberapa akun 'txtdari'-blablabla itu contohnya. Mereka rajin melakukan tangkapan layar pada opini orang-orang tertentu, lalu menjadikannya bahan perundungan buat pengikutnya. Yaa memang belakangan ini mereka menyoret nama penggunanya, tapi sekarang penelusuran Twitter gampang banget digunakan untuk menguntit siapa yang mengirim post itu. Sudah bukan rahasia lagi, tinggal mengcopy-paste kata-kata yang ditulis di tangkapan layar itu dan voila! Dapat nama pengirimnya. Tinggal ditangkap layar lagi lalu disebarkan deh. Tulis saja balasan di akun 'txtdari' itu dan semua orang yang kepo langsung bisa dapat bahan rundungan baru. 

Ya saya setuju kalau fitur tersebut digunakan untuk menolong orang lain, misalkan menolong orang yang diancam / dikuntit / dll. Pernah ada orang yang mau menyebarkan foto telanjang mantan pacarnya di twitter, dia menyebarkan identitas mantan pacarnya tersebut dan warganet (yang waras) beramai-ramai merundung orang itu. Semua melaporkan akun tersebut, juga melakukan tangkapan layar untuk diberikan ke akun kepolisian. Beberapa LSM juga berkata akan mengawal kasus itu untuk melindungi korban jika fotonya beneran tersebar. Kalau untuk itu, oke saya setuju. Tapi kalau untuk merundung opini orang yang sebenarnya tidak berbahaya?

Dulu pernah ada seorang perempuan yang iseng memposting fotonya dengan caption yang mungkin agak cringe buat sebagian orang, tapi buat saya sebenarnya biasa saja. Hey, we all have our own cringey/alay times, no? Tapi dalam hitungan jam, ratusan balasan menyerang perempuan itu. Orang-orang itu niat banget membuka 'jejak digital' lama, menguntit sampai akun media sosial lain dan tentu saja ... bodyshaming habis-habisan. Ketika perempuan itu nggak tahan dan membalas, semakin banyak backlash yang dia dapat. 

Padahal, jujur saja apa yang ditulis perempuan itu tidak membahayakan kok! Ini juga bukan yang pertama kalinya orang yang ingin berbagi positive vibes malah kena rundung. Akhirnya boro-boro mau berdiskusi damai dengan menuliskan opini! Udahlah, saya putuskan untuk rehat sejenak. 

Saya lebih banyak menggunakan instagram dan itupun saya banyak follow akun-akun yang 'adem', antara lain madcatnip, lalaartwork, yesimhotinthis dan banyak lagi akun 'adem' dengan ilustrasi-ilustrasi manis yang siap menyegarkan pikiran saya setiap kali saya buka instagram. Saya juga download Wattpad, Noveltoon dan Storial. Yang saya rasakan? Pikiran saya jadi lebih tenang. Saya jadi bisa lebih fokus dengan keadaan sekitar. Oh ya, saya juga follow akun perempuan-perempuan yang saya sebutkan tadi. And their positive vibes are amazing! Sayang orang-orang yang gemar ketubiran tidak bisa melihatnya :P their loss. 

Mungkin sebagian orang penasaran ya ... kenapa nggak saya blokir atau senyapkan saja orang-orang yang membuat saya kesal di twitter? Mungkin nanti kalau saya niat :P saya akan bebersih akun twitter saya, mute orang-orang yang toxic lalu follow akun-akun adem. Sementara ini ... saya masih nyaman dengan aplikasi-aplikasi baru saya. Biarlah Twitter dengan segala ketubirannya. Saya mau senang-senang dulu, hihihi :) 

Wednesday, 15 July 2020

A Break From Twitter

So I decided to take a break from the infamous microblog site ; twitter. The reason was ... well, it became more and more toxic (d'uh). Turned out the people that I followed were ... not so 'open-minded' as they claimed themselves to be. I'm not being sad about it or anything ... in fact, I'm grateful that I had the chance to see the true them before it's too late.

It started with this article. The writer - Revina - told us how the 'our body our authority' also came with 'our responsibility'. She wrote a piece on how someone who had unprotected sex should be prepared with the consequences. At this case, the queen-mother of consequences (Indonesian version) : unwanted pregnancy. As we all know, Indonesia's health law prohibited abortion unless it was medical indication (emergency) or in rape case where it could cause trauma for the mother.

Revina talked about the consensual unprotected sexual intercourse and its consequences. Like it or not, as much as it's supposed to be both parts' responsibility, the law when it comes to unwanted pregnancy couldn't help the woman as much as it should be. There weren't any criminal law for the man, only civil law. As someone who works in the law field, Revina also described that even though civil law could somehow force the man to take responsibility, the process would be long and with high cost as to take DNA test, etc.

I had encountered enough of DNA paternity cases before. Most of them were unpleasant, especially if the result was far from what the family expect. I saw them cried. I faced insults. I got offered some bribery (as if there is enough money to switch the DNA structures of a baby, so NO!) and I got conclusion that : one should be prepared with the consequences when it comes to unprotected sex in Indonesia. In front of the law, the judge would see things as it is. A result of consensual unprotected sex would always put the woman in the wrong part - not to mention the stigma from the society.

So I agree with Revina when it comes to 'take responsibility'. If you don't want pregnancy, then make sure you're protected. Yes, one's body one's authority but don't forget the responsibility, please. Yes we all wish for fairness in law as well as society, but whether we like it or not ... the woman - who carried the child - would often forced to take the scarlet letter. So before the day the law changed, we should be careful.

Okay, Revina was a bit harsh when she said 'consensual unprotected sex = 'consent' to get the consequences', for the sex education was still not enough and fair throughout Indonesia due to 'taboo' and such ... but for those who know the consequences, sane and be able to give consent to consensual sex, they should prepare for the consequences. I agree with her in this.

However, some of my friends in twitter are strongly disagree with her. It's okay, we all have our own opinion, but I hate the way they tried to bash her by bringing up her old mistakes, twisting her words, quoting her article and said 'look at her, she's agaisnt woman's right' even though she clearly said she is more than willing to help woman with unwanted pregnancy. They twist the article as if Revina talked about unconsensual sex (rape, statutory, etc). I tried to speak up my mind, trying to tell them : yes, her words are strong but the message she tried to give is got the point.

One of them told me : go read this tweet about consent. Yes, thank you. I read that. Yes, I perfectly understand that if one gives consent but changes one's mind, the other must not force themselves and respect that. But not all people understand that and it would be hard when they tried to take it to court. The fact that "I do agree to do sexual intercourse but I changed my mind later, but I was forced to do so" would seldom be accepted in court.

Yes it is unfair. Yes we all want it to change. As someone who deal with this kind of case, I want justice to be served. The bitter truth is, the chance is pretty rare that the judge would accept such testimony. They would think "She's making that up / if she didn't agree she should be from the start / and another accusation"

That's what she tried to say. Until that day come, let's all be careful and use our authority on our body wisely - aware with the consequences and all. Unfortunately some people are too emotional to see it. And plenty of them use dirty ways to force her to say "I take it back.". Old 'digital trace', even body-shaming ... the things most of the 'open minded people' was usually refused to do so. Turned out we all will use double standard eventually.

Soo ... I decided to take a break. I'm gonna alter my socmed to play UNO or read WattPad. It's better for my mind at the moment.

Ps. Deepest condolences for Naya Rivera's family and friends. I just heard the news this morning. May you rest in peace, Naya ... and may God give strength to everyone close to you.

Ambis

  Just yesterday another hullabaloo happened in twitter (surprise, surprise). This time it was about an infamous stand-up comedian slash inf...